Rabu, 26 Januari 2011

Pemimpin Orang Bertakwa

Oleh: KH Tengku Zulkarnain***

Menjadi pemimpin berarti telah memikul sebuah beban yang sangat berat dan kelak pasti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah di akhirat. Meskipun demikian, ternyata berjuta-juta orang hari ini masih bermimpi dan berjuang keras untuk menduduki kursi dan jabatan sebagai seorang pemimpin. Padahal, memimpin diri sendiri dan keluarga saja susahnya bukan main, apalagi jika mesti memimpin ratusan juta manusia dari beragam suku dan golongan yang berbeda kelas pendidikan, sikap, dan kebiasaan.

Rasulullah bersabda: "Pemimpin suatu kaum adalah pelayan kaum tersebut". (HR Abu Nu'aim). Sayangnya, hari ini banyak pemimpin yang justru bersikap sebaliknya. Mereka malah memperalat kaum yang dipimpinnya untuk kepentingan diri, keluarga, partai, dan golongannya sendiri. Sangat langka sosok pemimpin idaman yang muncul ke permukaan dan bersikap seumpama pelayan kaumnya, seperti cerminan hadis di atas.

Sesungguhnya menjadi pemimpin tidaklah seenak yang dibayangkan para pemburu kekuasaan. Di dalam Alquran, Allah menceritakan orang-orang yang bermartabat tinggi. Dan, dalam salah satu doa, mereka meminta agar diangkat menjadi seorang pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa: "Waj'alna li  al-muttaqina immama" (al-Furqan ayat [25]: 74).

Mengapa mereka hanya meminta kepada Allah untuk menjadi pemimpin bagi orang yang bertakwa? Ternyata menjadi pemimpin bagi orang-orang durhaka dan kufur nikmat sama sekali tidak menyenangkan. Jika sang pemimpin berbuat baik kepada mereka, mereka tidak mensyukurinya, bahkan sebaliknya malah mencelanya. Akan tetapi, jika sang pemimpin berbuat kesalahan kecil saja, mereka akan ramai-ramai menghujat, memaki, menghina, dan kalau memungkinkan membunuhnya. Tegasnya, menjadi pemimpin orang-orang durhaka, hanya lebih banyak mendapatkan sakit hati daripada mendapatkan nikmatnya.

Lantas mengapa berjuta-juta manusia masih saja haus kursi kekuasaan? Tidak lain penyebabnya adalah karena besarnya gelora nafsu dalam dada mereka.

Pada zaman Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Radhiyallahu 'Anhum, hampir 100 persen umat di masa itu terdiri atas orang-orang yang bertakwa. Bahkan, Allah memuji mereka sebagai orang-orang yang diridai-Nya (QS at-Taubah [9]: 100).

Para Khalifah khususnya Abu Bakar dan Umar merasakan nikmatnya menjadi pemimpin atas orang-orang yang bertakwa itu. Sedangkan Utsman dan Ali mulai mengalami gejolak dengan munculnya orang-orang durhaka meskipun masih dalam jumlah minoritas. Kenyataannya, walaupun manusia durhaka pada zaman itu hanya segelintir jumlahnya, ternyata keempat pemimpin yang mulia itu justru mati dibunuh oleh manusia-manusia durhaka itu.

Bagaimana dengan negeri kita tercinta ini? Apakah lebih banyak orang salehnya daripada mereka yang durhaka? Jika kita jujur menilai, pasti jawaban yang diperoleh sudah sama-sama dimaklumi. Lantas jika sudah maklum akan jawabannya, masihkah kita bermimpi untuk memburu kursi kekuasaan? Wallahu a'lam bishawab.
Red: Siwi Tri Puji B

Sumber:Republika OnLine » Ensiklopedia Islam

Senin, 10 Januari 2011

Standar Halal MUI Jadi Rujukan Dunia

Senin, 10 Januari 2011 18:57 Dwi Hardianto
    Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) menunjukan eksistensinya sebagai lembaga sertifikasi halal yang kredibel, baik nasional maupun Internasional. Sistem sertifikasi dan sistem jaminan halal yang diterapkan LPPOM MUI telah diakui dan diadopsi oleh lembaga-lembaga sertifikasi halal luar negri.
"Kita bertekad untuk menjadikan standar halal Indonesia sebagai standar halal internasional. Konsep LPPOM MUI sudah kami sampaikan disidang World Halal Council dan mendapat respon positif," papar Direktur LPPOM MUI, Ir Lukmanul Hakim, di Jakarta (6/1/2010). 
Dia juga menambahkan, bahwa setidaknya ada 41 lembaga halal dunia yang sudah merujuk standar kehalalannya ke LPPOM MUI, diantaranya, Negara-negara ASEAN, Kanada, Inggris, Belanda, Belgia, Turki, Jepang dan Amerika Serikat. 
Di dalam negri, Lanjut Lukman, sejak tahun 2005-2010, LPPOM MUI telah mensertifikasi halal sebanyak 75.514 produk nasional maupun produk impor. Peningkatan antara sertifikasi produk pada tagun 2009 (10.550) - 2010 (21.837) mencapai peningkatan sebesar 100%.
Peningkatan jumlah produk bersertifikasi halal juga semakin menunjukan tingginya kepedulian masyarakat terhadap produk halal. Berdasarkan survei LPPOM MUI pada tahun 2010, kepedulian masyarakat terhadap kehalalan produk meningkat dari 70% menjadi 92,2%. 
Berdasarkan data Badan POM RI, jumlah terregistrasi sebanyak 113.515, sedangkan yang sudah memiliki Sertifikasi halal MUI sebanyak 41.695. Dengan begitu sebanyak 36,73% saja dari produk yang beredar dan teregistrasi yang memiliki sertifikat halal MUI. 
 "Untuk meingkatkan jumlah produk bersertifikat halal MUI dan upaya melindungi serta menentramkan masyarakat Indonesia, maka perlu merubah prinsip Voluntary (Sukarela) menjadi Mandatory (Wajib)dalam proses sertifikasi halal," tegas Lukman. (Daniel)
Sumber:Cyber Sabili.com

Jangan Bakar Kebunmu!

Senin, 10/01/2011 08:31
Oleh Abi Sabila
Parmin, karyawan yang sudah tiga tahun bekerja di Rumah Makan Sederhana itu hanya diam tertunduk. Sebuah kesalahan yang tak sengaja ia lakukan telah memancing amarah sang majikan. Berkali-kali Parmin meminta maaf, tapi tak juga meredakan amarah sang majikan. Omelan dan bentakan sang majikan terus mengalir, bagaikan tiada habisnya.
Sebenarnya Parmin tak ingin merasa sakit hati, karena apa yang diucapkan sang majikan memang hampir semua benar adanya. Bahwa karena rasa kasihan, maka sang majikan menerimanya menjadi pelayan di rumah makan yang sebenarnya tak perlu menambah karyawan. Bahwa ia sering meminjam uang pada sang majikan untuk dikirim kepada keluarganya, namun tak juga segera mengembalikan hingga sang majikan menganggapnya lunas begitu saja. Bahwa benar sang majikan sering memberi uang tambahan dari gaji yang seharusnya ia terima. Parmin menyadari itu, mengakui semua yang diucapkan sang majikan saat itu.
Tapi yang membuat Parmin sedih bahkan akhirnya sakit hati, sang majikan membongkar semua itu dihadapan banyak karyawan lainnya. Bahkan pengunjung yang tidak berkepentingan dan tidak tahu menahu awal persoalannya, menjadi tahu siapa dan bagaimana dirinya.
Mengapa harus diungkit, jika hanya membuat hati semakin sakit? Kalau memang ikhlas, mengapa semua kini digembar-gemborkan? Tidak hanya tangan kiri yang akhirnya tahu, bahkan semua orang tahu jika tangan kanannya telah berbuat kebaikan. Astaghfirulloh!
Parmin sedikit merasa lega setelah sang majikan menghentikan omelannya. Sebisa mungkin ia menekan rasa sakit hatinya pada sang majikan yang walau bagaimanapun telah banyak berjasa dalam kehidupannya. Ia berusaha untuk ikhlas menerima. Ia telah melakukan kesalahan, dan apa yang dikatakan sang majikan memang benar demikian.
Sementara sang majikan merasa puas telah mengeluarkan semua kekesalannya. Ia sama sekali tak menyadari bahwa bukan saja hati Parmin yang sakit, tapi ‘kebun’ yang ia miliki saat itu sudah habis terbakar, nyaris tak bersisa.
***
Kisah diatas hanyalah fiktif belaka. Namun demikian, dalam konteks yang hampir sama bisa kita temui di kehidupan nyata.
Ibarat sebuah kebun, amal ibadah yang kita kerjakan adalah bibit-bibit yang kita semaikan di atasnya. Macam dan jenisnya, tergantung apa yang kita lakukan, kita tanamkan. Ada jenis pohon yang akan segera berbuah dalam jangka waktu yang relatif singkat. Ada juga yang akan berbuah setelah menunggu dalam jangka waktu yang panjang. Dan ada juga yang berbuah sepanjang waktu, sepanjang musim. Pohon yang seperti ini tumbuh dari bibit bernama sedekah jariyah.
Jika tak diserang hama, bibit-bibit kebaikan akan tumbuh menjadi tunas dan berkembang menjadi pohon yang subur, berbunga dan akhirnya berbuah. Namun bila hama menyerang, atau bila kita tidak pandai dan bersungguh-sungguh merawatnya, maka pohon-pohon tidak akan tumbuh subur, layu sebelum berkembang, bahkan mati sebelum berbuah.
Begitupun amal kebaikan yang kita kerjakan. Mereka ibarat benih-benih yang kita sebar di perkebunan. Niat yang baik dan benar serta keikhlasan yang sempurna, untuk dan hanya mengharap ridho Allah semata adalah bibit unggul untuk kita harapkan buahnya, baik di dunia maupun di akhirat. Tapi, seumpama hama dan penyakit pada tanaman, setan akan selalu berusaha untuk merusak perkebunan kita dengan segala tipu muslihatnya.
Banyak pohon kebajikan yang kita tanam akhirnya tak menghasilkan buah, bahkan mati sebelum berbunga karena kita tak pandai memeliharanya. Niat yang lurus dan keikhlasan pada awalnya menjadi riya dan ujub pada akhirnya.
Seringkali kita tak mampu menjaga keikhlasan dari amal yang telah dikerjakan. Kisah di atas salah satu contohnya. Kebaikan sang majikan, pertolongan yang selalu ia berikan adalah bibit unggul baginya. Kemajuan usahanya adalah salah satu buah yang dihasilkan pohon kebaikannya. Namun sayang, kesalahan yang sejatinya adalah wajar sebagai manusia telah memancing amarahnya. Ia tak mampu mengendalikan emosi, menahan diri dari mengungkit semua yang pernah dia lakukan dengan ketulusan, ia berikan dengan keikhlasan. Kata-katanya telah menyakiti orang lain yang sebenarnya sangat menyadari kebaikan yang telah ia berikan. Kekesalannya, emosinya telah membakar habis pohon-pohon yang mulai berbuah, bahkan hingga ke tunas-tunasnya. Hanguslah kebun kebajikan, terbakar emosi, riya dan takaburnya. Innalilai wa inna ilaihi rojiuun.
Disadari atau tidak, sebenarnya sering kitalah yang menjadi hama dan ancaman bagi pohon-pohon di perkebunan kita sendiri. Setan sedemikian kerasnya berusaha untuk mengalihkan perhatian kita, melalaikan kita, melenakan kita dan menyelipkan rasa takabur ketika menyaksikan pohon-pohon kita tumbuh dengan subur. Setan boleh saja gagal menghalangi niat dan keikhalasan kita berbuat kebaikan, tapi setan tidak akan rela membiarkan amal ibadah kita tumbuh dan berbuah. Sulitnya mempertahankan keikhlasan menjadi kesempatan emas bagi setan untuk merusak amal ibadah manusia. Na’uzubillah!.
Perasaan kecewa manakala orang-orang tak menyadari bahwa apa yang mereka nikmati adalah hasil dari sedekah kita, kerja keras kita. Akan terasa bahagia dan bangga bila ada salah satu dari mereka yang mengatakan bahwa itu adalah hasil pemberian kita. Ini adalah bara yang disiapkan setan, dan akan berkobar menjadi api yang siap membakar habis bila tak segera kita padamkan.
Kita masih sering tergoda untuk mencari cara bagaimana agar orang tahu dan akhirnya mengakui bahwa kebaikan itu terjadi karena kita, campur tangan dan sumbangan kita. Ketika ‘pengakuan tak segera didapatkan, muncullah rasa kesal yang kemudian mendorong untuk mengungkit-ungkit apa yang sudah kita berikan. Tangan kiri yang tadinya dijaga jangan sampai tahu malah ikut memplokamirkan apa yang tangan kanan lakukan. Keikhlasan dan ketulusan yang semula menjadi pupuk, termakan sombong, riya dn takabur. Orang yang tadinya bersyukur dengan kebaikan kita menjadi sakit hati lantaran diungkit dan dipermalukan.
Jika kita masih saja demikian, tak ada buah yang bisa dinantikan karena pohon terlanjur mati sebelum berbunga. Kalaupun tersisa, hanyalah semak belukar yang tak bisa diharapkan apapun darinya , baik batang, daun maupun buahnya. Dan jangan kaget atau menyalahkan siapa-siapa, sebab bisa jadi pohon mati bukan karena hama dan penyakit yang menyerang, tapi karena kita tak pandai menjaga dan merawatnya. Luruskan niat, pertahankan keikhlasan, insya Allah ‘perkebunan’ kita akan menghasilkan apa yang kita harapkan. Amin.
Jangan biarkan nafsu membakar kebun-kebunmu
Sumber://abisabila.blogspot.com

Sabtu, 08 Januari 2011

Hikmah Mengubah Diri Sendiri

                                          Illustrasi
Oleh: A Ilyas Ismail
          

Di alam ini, segala hal berubah, dan tak ada yang tak berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Pada masa kita sekarang, perubahan berjalan sangat cepat, bahkan dahsyat dan dramatik. Kita semua, tak bisa tidak, berjalan bersama atau seiring dengan perubahan itu. Tak berlebihan bila Alan Deutschman pernah menulis buku, untuk mengingatkan kita semua, dengan judul agak ekstrim, “Change or Die” (Berubah atau Mati).

Perubahan pada hakekatnya adalah ketetapan Allah (sunnatullah) yang berlangsung konstan (ajek), tidak pernah berubah, serta tidak bisa dilawan, sebagai bukti dari wujud dan kuasa-Nya (QS. Ali Imran [3]: 190-191). Namun, perubahan yang dikehendaki, yaitu perubahan menuju kemajuan, tidak datang dari langit  (given) atau datang secara cuma-cuma (
taken for granted). Hal ini, karena Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri mengubah diri mereka sendiri (QS. Al-Ra`d [13]: 11).

Untuk mencapai kemajuan, setiap orang harus merencanakan perubahan, dan perubahan itu harus datang dan dimulai dari diri sendiri. Perubahan sejatinya tidak dapat dipaksakan dari luar, tetapi merupakan revolusi kesadaran yang lahir dari dalam. Itu sebabnya, kepada orang yang bertanya soal hijrah dan jihad,  Nabi berpesan. Kata beliau,
“Ibda’ bi nafsik, faghzuha” (mulailah dari dirimu sendiri, lalu berperanglah!).  (HR. al-Thayalisi dari Abdullah Ibn `Umar).

Seperti diharapkan Nabi SAW dalam riwayat di atas, perubahan dari dalam dan dari diri sendiri merupakan pangkal segala perubahan, dan sekaligus merupakan kepemimpinan dalam arti yang sebenarnya. Hakekat kepemimpinan adalah kepemimpinan atas diri sendiri. Dikatakan demikian, karena seorang tak mungkin memimpin dan mengubah orang lain, bila ia tak sanggup memimpin dan mengubah dirinya sendiri.

Perubahan dalam diri manusia dimulai dari perubahan cara pandang atau perubahan paradigma pikir (
mindset). Manusia tak mungkin mengubah hidupnya, bilamana ia tak mampu mengubah paradigma pikirnya. Karena itu, kita disuruh mengubah pikiran kita agar kita dapat mengubah hidup kita (Change Our Thinking Change Our Life).

Selanjutnya, perubahan paradigma harus disertai dengan perubahan dalam penguasaan ilmu dan keterampilan. Perubahan yang satu ini memerlukan pembelajaran  dan pembiasaan (learning habits) yang perlu terus diasah.

Akhirnya, perubahan diri itu, menurut Imam al-Ghazali, membutuhkan tindakan nyata (al-Af`al). Ilmu hanya menjadi kekuatan jika ia benar-benar dikelola menjadi program dan tindakan nyata yang mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Pada tahap ini, tindakan menjadi faktor pamungkas, dan menjadi satu-satunya kekuatan yang bisa mengubah cita-cita (harapan) menjadi realita (kenyataan).
Wallahu a`lam!

Dimuat di Republika edisi 7 Januari 2011

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Cbox