Sabtu, 14 April 2012

Titian Tangga Itu Bernama Proses

Illustrasi

Oleh Dian Sianturi
Ada sesuatu yang berbeda ketika saya mulai membaca satu persatu kata yang terangkum dalam rangkaian kalimat-kalimat yang penuh hikmah itu. Sebuah jawaban email dari seorang nara sumber penelitan skripsi saya. Seorang Koko Nata Kusuma penulis asal Palembang yang kini bermukim di kota Depok.
Sebuah penelitian yang harus saya selesaikan untuk menyelesaikan tugas akhir kuliah saya. Email yang saya kirimkan melalui teman satu kos saya -berhubung saya belum mempuyai email, gatek banget yaJ- sebenarnya adalah sebuah angket yang berisi rangkaian pertanyaan yang sebenarnya juga harus di jawab melalui poin – per poin.
Namun ketika saya buka flas disk dari teman saya, beliau mengirimkan empat buah file yang berisi dua tulisan esai mengenai FLP dan perjalana menulisnya, yang menurut saya lumayan panjang. Tak apa, justru itu bagi saya menunjukkan keseriusan beliau untuk membantu saya menyelesaikan tugas akhir saya ini. Ngak masalah.
Diantara dua file yang dikrimkan Koko Nata, ada salah satu file dari beliau yang begitu saya senangi dan berulang-ulang saya membacanya -File tenatng perjalanan panjangnya untuk menjadi seorang penulis. Sebuah file yang di buka denag tulisan dengan font huruf besar yang di hitamkan.
Dan untuk pertama kali saya membacanya, hati saya langsung tertohok. Begini isinya Saya Belajar, bahwa tidak ada yang instant atau serba cepat di duniaini, semua butuh proses pertumbuhan kecuali saya ingin cepat mati (no name)
Yup. Hidup itu adalah rangkaian proses. Proses untuk menjadi lebih baik, Proses untuk menjadi lebih tinggi. Proses untuk menjadi lebih sukses. Hidup itu adalah titian tangga yang semakin menjulang keatas. Hidup itu adalah gamabarn warna warni foto yang bermejikuhibiu. Benarkan kak?
Membaca email dari seorang Koko Nata, membuat saya semakin yakin bahwa Tuhan tak akan pernah zalim kepada hambanya. Setiap keputusan-keputusan yang ia tetapkan dalah sesuatu yang terbaik buat hidup kita.
Mungkin saat ini kita, begitu inginnya menjadi kaya, lalu memilih jalan dengan cara yang serba cepat, dengan cara menipu misalnya. Mungkin kita saat ini ingin menjadi populer dan di kenal banyak orang, hingga untuk mencapai itu semua kita rela mengorbankan harga diri kita yang telah diberikan Tuhan.
Ya, setiap orang yang didunia ini saya yakin semuanya pasti ingin bahagia, ingin sukses dalam hidupnya. Namun, Tuhan tidak begitu saja memberikan kesuksesan atau kebahagian begitu saja tanpa adanya titian tangga-tangga yang merupakan jalan untuk mencapai sebuah sukses dan kebagaian itu.
Saya pribadi merasakan kebahagian yang sesungguhnya bila saya bisa mencapai keinginan saya itu dengan menaiki tangga dari yang paling bawah, dari pada langsung terbang dan bisa berdiri diatas di puncaknya.
Lihatlah orang-orang yang telah meraih sukses di dunia ini. Dan tanyakanlah kepada mereka, betapa berliku jalan yang mereka lewati untuk mencapai itu semua. Tak ada yang instan di dunia, jika kita ingin di kenang, meski raga kita telah berkalang dengan tanah.
Seorang Bill Gates harus di keluarkan dari tempat kuliahnya. Kemudian berhari-hari bergumul dengan komputer hingga ia dapat menciptakan suatu perangkat lunak dan menjadikannya sebagai salah seorang manusia terkaya saat ini. Thomas Alfa Edison, harus di keluarkan dari sekolahnya dan dikatakan idiot, dan harus melakukan percobaan sebanyak 999 kali, tanpa lelah dan menyerah, hingga kita sekarang dapat menikmati terangnya lampu pijar yang ditemukannya.
Seorang wanita penulis novel terkenal Harry Potter harus mengalami penolakan naskahnya berkali-kali, dan justru itu menjadikannya kini sebagai seorang yang bukunya telah dibaca oleh banyak orang-orang di dunia saat ini. Seorang Said Qutub adalah politikus yang kalah dalam berkampanye, dan di penjara secara tidak hormat, hingga ia akhirnya bisa menghasilkan sebuah karya yang fenomenal dan namanya dikenal sebagai seorang pejuang sejati.
Tak ada yang instan memang di dunia ini semuanya butuh proses, semua butuh perjuangan, semua butuh air mata dan keringat, semua butuh luka yang berdarah-darah. Jiak kita ingin sukses, jika kita ingin nama kita dikenang sebagai seorang yang di kenang sebagai seorang pejuang bukan sebagai pecundang.
Sumber; Eramuslim.Com
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Cbox