Kamis, 29 Mei 2014

Ketika Bung Karno, Prabowo dan Ahmad Dhani Berpeci Hitam

                                         Bung Karno - Prabowo - Ahmad Dhani 
Oleh: Alex Palit
Dalam sebuah kesempatan Bung Karno mengatakan marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka. Di sini Bung Karno ingin menyematkan makna bahwa pemakaian peci hitam tidak sekadar sebagai topi atau asesoris yang melekat di kepala, justru bagaimana menjadikan peci hitam, songkok atau kopiah ini sebagai peneguh jati diri bangsa yaitu lambang Indonesia Merdeka.
Itu sepenggal kisah dari cerita Bung Karno dengan peci hitamnya. Sejak itu pemakaian peci hitam ini dimaknai sebagai simbolisasi dan spirit nasionalisme. Lewat peci hitam ini pula Bung Karno mengajak untuk menegakkan kepala kita sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat dan bermartabat berdiri sejajar dan sepadan dengan bangsa-bangsa merdeka lainnya di muka bumi sebagaimana yang dituangkan dalam doktrin Trisakti yaitu berkedaulatan di bidang politik, ekonomi dan kebudayaan.
Bung Karno telah tiada, tetapi kisah Bung Karno dengan peci hitamnya tidak pernah mati. Kisah Bung Karno dengan peci hitamnya kini kembali bangkit dalam diri Bung Prabowo Subianto. Dari gestur, dari cara setelan berpakaian dengan peci hitamnya, dari gaya pidato yang meledak-ledak tanpa membaca teks, bayang-bayang figurisasi Bung Karno menampakkan diri pada diri Prabowo. Itu pula yang kemudian banyak yang menyebutkan di wajah Prabowo kulihat Bung Karno.
Termasuk bagaimana seorang Amien Rais dibuat terkesima oleh gaya dan tampilan Bung Prabowo berpidato. "Saya bukan tukang baca wajah manusia, tapi Pak Prabowo ini dari samping seperti Bung Karno," ujar Amien saat itu memberikan sambutan di acara deklarasi Prabowo dan Hatta sebagai calon presiden dan wakil presiden di Rumah “Bung Karno” Polonia, Jalan Cipinang Cempedak, Jakarta Timur.
Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap sosok capres lainnya, terus terang saya katakan bahwa simbol peci hitam itu lebih melekat di kepala dan dalam diri Prabowo. Begitupun dengan gesturnya, kharisma simbol peci hitam itu lebih memancar dalam diri Prabowo.
Begitupun dari segi tampilan dan gaya berpidato Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini Bung Karno banget. Begitupun dengan tampilan peci hitamnya tak lain adalah simbol spirit nasionalisme ke-Indonesia Raya-an calon Presiden Indonesia di Pilpres 2014 yang diusung oleh partai Gerindra, PAN, PPP, PKS, PBB dan Golkar lewat koalisi “Merah Putih”.
Prabowo memang bukan anak biologis atau anak ideologis Bung Karno, tapi setidaknya dengan membaca bukunya “Surat Untuk Sahabat” rangkuman tulisan dari akun facebooknya, isinya sangat merepresentasikan ajaran doktrin Trisakti – Bung Karno. Jadi jauh-jauh hari sebelum Jokowi ngomongin doktrin Trisakti, Prabowo sudah membedah ajaran Bung Karno mengenai kedaulatan dan kemandirian bangsa ini lewat ekonomi kerakyatan 6 Program Aksi Gerindra.
Lalu bagaimana dengan peci hitamnya Ahmad Dhani. Saya lupa tahunnya, Dhani pernah merilis solo album yang kovernya berpose ala Bung Karno lengkap dengan peci hitamnya. Dengan mejeng ala Bung Karno ini pastinya bukan tanpa makna dan pasti juga disertai alasan tersendiri yang bersifat personal. Justru solo album Dhani yang kovernya ala Bung Karno berpeci hitam ini menjadi menarik bila kemudian disandingkan dengan spirit peci hitamnya Bung Karno.
Dalam tulisan ini saya justru ingin lebih menyorot Ahmad Dhani dengan peci hitamnya. Sejauhmana musisi Ahmad Dhani dengan peci hitamnya mengenalkan karya-karyanya sebagaimana dimaksud dengan poin ketiga doktrin Trisakti ketika musik itu tidak sekadar hiburan ngak ngik ngok, tapi lebih menyentuh dan diletakkan dalam perspektif filosofis peci hitam. Karena dalam konteks doktrin Trisaksi atau dalam filosofi peci hitamnya Bung Karno, musik itu tidak sekadar sebagai hiburan ngak ngik ngok, melainkan juga dimainkan menjadi bagian peneguh identitas dan jati diri, sekaligus menjadi ketahanan dan kedaulatan budaya bangsa dalam berbudaya musik.
Jadi, sebegitu pentingkah musik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Sejauhmana pengaruh musik membentuk karakter bangsa dalam kehidupan bernegara? Masih relevankah pertanyaan ini dilontarkan untuk mempertegas kembali komitmen tanggungjawab para seniman musik di tengah pengaruh kekuatan ideologis global yang bernama budaya popular?
Menurut filsuf Plato bahwa musik mempunyai peran cukup kuat dalam kehidupan negara. Termasuk didalamnya bahwa musik memiliki pengaruh cukup kuat di bidang politik. Musik bisa untuk kekuatan, kebaikan maupun kejahatan. Bahkan disebutkan kejayaan atau keruntuhan suatu negara dapat disebabkan musik. Dari watak musiknya suatu masyarakat atau bangsa dapat dipelajari.
Dalam perspektif politik kebudayaan, pencekalan terhadap musik ngak ngik ngok (baca; budaya popular) yang dilakukan Bung Karno kala itu dimasudkan bukan hanya akan berpengaruh buruk terhadap mentalitas bangsa, tapi juga bisa mengancam kedaulatan kepribadian kebudayaan bangsa. Langkah politik Bung Karno dengan doktrin Trisakti-nya ini merupakan bagian dari strategi kebudayaan sebagai langkah startegis untuk menjaga kedaulatan politik, kedaulatan ekonomi, dan kedaulatan kepribadian budaya bangsa.
Sebagai wujud dari strategi politik kebudayaan, Bung Karno tidak menghendaki kedaulatan kepribadian, identitas, dan jati diri budaya bangsa ditindas dan digerogoti oleh keberadaan budaya musik ngak ngik ngok yang jelas-jelas dianggap tidak mencerminkan nation character building. Musik sebagai bagian dari karya kebudayaan merupakan pencerminan nilai-nilai yang terkandung dari masyarakat bersangkutan. Bahkan tinggi rendahnya nilai budaya suatu masyarakat dapat dipelajari dari watak musiknya.
Seperti kata filsuf Herbert Marcuse, musik memang tidak dapat mengubah suatu keadaan, tetapi musik mampu menyumbangkan satu perubahan kesadaran manusia. Dan pada gilirannya, manusia inilah yang mampu mengubah dunia. Kesadaran inilah yang menjadi tanggungjawab moral dan sosial seniman dalam memaknai bahwa musik itu tidak sekadar ngak ngik ngok, justru bagaimana menempatkan musik sebagai bagian dari karya kebudayaan menjadi pengukuh identitas dan jati diri budaya bangsa, sekaligus meletakkannya sebagai pertahanan ketahanan dan kedaulatan budaya bangsa
Tulisan ini hanya sekadar ingin memaknai spirit nasionalisme atau ke-Indonesia Raya-an Bung Karno, Bung Prabowo dan Ahmad Dhani dalam perspektif peci hitamnya dengan mengacu pada ajaran doktrin Trisakti – Bung Karno. Semoga!
* Alex Palit, citizen jurnalis “Jaringan Pewarta Independen”, penulis lirik lagu, pendiri “Forum Apresiasi Musik Indonesia” (Formasi)
Sumber:Tribun news .Tribunners

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cbox